Tampilkan postingan dengan label arkeologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label arkeologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Januari 2012

7 Reruntuhan Kuno di Bawah Laut Yang Paling Menarik

Istana Cleopatra di Alexandria (Mesir)

Lepas pantai Alexandria, kota dari Alexander Agung, terletak apa yang diyakini sebagai puing-puing kerajaan kuartal Cleopatra. Sebuah tim arkeolog kelautan yang dipimpin oleh Prancis Franck Goddio melakukan penggalian di kota kuno ini dari tempat Cleopatra, ratu terakhir Ptolemies, yag memerintah Mesir. Sejarawan percaya situs ini tenggelam oleh gempa bumi dan gelombang pasang lebih dari 1.600 tahun yang lalu.

Penggalian berkonsentrasi pada pulau Antirhodus yang terendam. Cleopatra dikatakan telah memiliki sebuah istana di sana. Penemuan lain termasuk kapal karam yang terawat baik dan granit merah dengan tulisan Yunani.Juga ditemukan sphinx yang dikatakan untuk mewakili ayah Cleopatra, Raja Ptolemeus XII. Artefak masih tetap ditempat semula, karena Pemerintah Mesir memnginginkan tempat itu untuk menciptakan sebuah museum bawah air.



Kota Paling Keji Di Bumi, Port Royal (Jamaica)

Port Royal adalah satu kota yang hancur akibat gempa bumi di Jamaika pada 7 Juni 1692. Sebelumnya Port Royal dikenal dengan sebutan "Kota Paling Keji di Bumi", karena disana tempat konsentrasi bajak laut, pelacur dan rum.

Dalam beberapa menit saja kota seluas hampir 33 hektar termasuk gedung-gedung, jalan dan rumah-rumah penduduk beserta isinya hilang ditelan air laut. Hari ini, kota metropolis bawah air tinggal menyisakan sekitar 13 hektar, pada kedalaman mulai dari beberapa inci sampai 40 meter.

Pada tahun 1981, Program Archaeology Nautical Texas A & M University, bekerja sama dengan Institute of Nautical Archaeology (INA) dan Jamaika National Heritage Trust (JNHT), memulai penyelidikan arkeologi bawah air mulai dari bagian terendam abad ke-17 kota Port Royal , Jamaika. Sekarang bukti menunjukkan bahwa sementara daerah Port Royal yang terletak di sepanjang tepi pelabuhan hancur ketika mereka tenggelam, menghancurkan sebagian besar konteks arkeologi, daerah yang diselidiki oleh TAMU / INA, terletak agak jauh dari pelabuhan, tenggelam secara vertikal, horisontal dengan sedikit gangguan.


The submerged temples of Mahabalipuram (India)

Menurut kepercayaan populer Kuil Mahabalipuram bukan suatu kuil, tetapi yang terakhir dari serangkaian tujuh candi, enam di antaranya telah tenggelam. Penemuan bangunan utama reruntuhan itu terjadi pada bulan April 2002 di lepas pantai Mahabalipuram di Tamil Nadu, India Selatan, pada kedalaman 5 hingga 7 meter (15-21 kaki) dilakukan oleh tim gabungan dari Dorset Scientific Exploration Society (SES) dan India's National Institute of Oceanography (NIO). Penyelidikan di lokasi masing-masing batu, sisa-sisa tembok yang tersebar, batu persegi dan blok persegi panjang dan platform besar dengan undak-undakan yang menuju ke sana. Semua ini berbaring di tengah-tengah formasi geologis batuan lokal.

Terdapat 4 sosok singa di empat lokasi, reruntuhan itu disimpulkan menjadi bagian dari kompleks candi. Dinasti Pallava, yang menguasai wilayah itu selama abad ke-7 Masehi, dikenal memiliki banyak bangunan batu keras seperti struktural candi di Mahabalipuram dan Kanchipuram.


Yonaguni-Jima, Bangunan berumur 8000 tahun (Japan)

Terletak 68 kilometer dari pantai timur Taiwan, Kepulauan Yonaguni adalah tempat yang luar biasa karena garis pantai yang berbatu dan pegunungan. Reruntuhan yang terendam itu terletak di pantai selatan Yonaguni: 100 × 50x25 meter artefak buatan manusia dari lembaran batu berdiri tegak. Itu diperkirakan berusia sekitar 8.000 tahun, yang sangat awal untuk jenis teknologi yang telah digunakan untuk ukiran itu. Ada teori yang berbeda tentang kemungkinan identitas struktur ini.

Sementara orang mengatakan ini adalah sisa-sisa reruntuhan Benua Mu yang hilang, arkeolog menyebutnya merupakan hasil dari proses geologis yang tak dapat dijelaskan. Dan ketika anda melihat lorong-lorong yang dirancang halus dan tangga, ide untuk mengatakan ini adalah "fenomena alam 'akan muncul.

Bangunan megalith ini ditemukan tanpa sengaja oleh seorang penyelam olahraga pada tahun 1995 ketika ia telah menyimpang melampaui batas yang diperbolehkan dari pantai Okinawa. Hal yang menarik dari bangunan batu besar ini adalah bahwa lengkungan itu terbuat dari batu indah berupa blok bantalan dan memiliki kemiripan dengan gaya arsitektur bangunan dari peradaban Inca.Perdebatan yang luas tentang reruntuhan itu dikaitkan sebagai Induk peradaban prasejarah.


Pavlopetri (Yunani)

Kota kuno Pavlopetri terletak pada tiga sampai empat meter di lepas pantai selatan Laconia di Yunani. Tanggal reruntuhan dari setidaknya sampai 2800 SM. Ditemukan bangunan utuh, halaman, jalan-jalan, kamar makam dan tiga puluh tujuh Cist kuburan yang dianggap berasal dari periode Mycenaean (1680-1180 SM).Ini termasuk fase Zaman Perunggu yunani yang termasuk dalam banyak literatur Yunani Kuno dan mitos, termasuk Homer's Age of Heroes.

Situs Mycenaean menawarkan pengetahuan baru tentang cara hidup dan sistem kerja pada waktu itu, mengingat hanya sedikit pengetahuan tentang itu, yang menurutnya orang-orang Mycenaean hanya memperluas kekuasaan mereka ke arah laut.


Poet Dwarka (India)

Di antara yang paling menarik dari penemuan-penemuan arkeologi yang dibuat di India dalam beberapa tahun terakhir adalah yang dibuat di lepas pantai dan Bet Dwarka Dwarka di Gujarat. Penggalian telah berlangsung sejak 1983. Ini adalah dua tempat yang terpisah 30 km satu sama lain. Dwarka berada di pantai laut Arab, dan Bet Dwarka adalah di Teluk Kutch. Kedua tempat ini dihubungkan dengan legenda tentang Kresna yang baik,Ada banyak candi di sini, terutama yang termasuk ke dalam periode abad pertengahan.

Dinilai sebagai salah satu dari tujuh kota paling tua di negara ini, kota legendaris Dvaraka adalah tempat kediaman Lord Krishna. Hal ini diyakini bahwa akibat kerusakan dan kehancuran oleh laut, Dvaraka telah tenggelam enam kali.


Desa Yang Hilang (Canada)

"Desa Yang Hilang" terletak di provinsi Ontario Kanada, di bekas kotapraja Cornwall dan Osnabruck (sekarang Stormont Selatan) dekat Cornwall, yang tenggelam secara permanen akibat penciptaan Seaway St Lawrence pada tahun 1958.

sumber: http://www.strov.co.cc/2010/02/7-reruntuhan-kuno-di-bawah-laut-yang.html

Jumat, 02 Desember 2011

Fosil Harimau Tertua Ditemukan


Ilmuwan menemukan fosil harimau berupa tulang tengkorak dan rahang yang diperkirakan berusia 2,16 juta-2,55 juta tahun. Fosil tersebut ditemukan di China dan setelah identifikasi, fosil itu dinobatkan sebagai fosil harimau tertua yang pernah ada.

"Penemuan identitas fosil ini penting untuk memiliki pemahaman lebih tentang sejarah fosil kucing besar dan relasi di antara mereka," ujar Andrew Kitchener, pimpinan kurator biologi hewan dengan tulang belakang di Museum National Skotlandia, Edinburg.

Nama ilmiah dari fosil harimau tertua ini adalah Panthera zdanskyi. Fosil itu dinamai berdasarkan palaentolog asal Austria yang menemukannya, Otto Zdansky. Fosil sebenarnya telah ditemukan tahun 2004 di lereng Longdan, Desa Dansu, China, sehingga harimau itu disebut harimau Longdan.
Meski sudah ditemukan 7 tahun lalu, identifikasi baru berhasil beberapa waktu lalu. Deskripsi hasil identifikasi dipublikasikan di jurnal PLoS ONE yang terbit 10 Oktober 2011.

Berdasarkan deskripsi di jurnal tersebut, harimau ini memiliki gigi taring atas yang berkembang dengan baik serta hidung yang relatif panjang dibandingkan harimau pada umumnya. Tengkorak harimau ini relatif lebih kecil, sempat diduga milik harimau betina, tetapi pemodelan ukuran keseluruhan menunjukkan bahwa tengkorak itu tengkorak pejantan. Secara umum, tengkorak harimau purba itu sama dengan tengkorak harimau modern.

"Sepertinya, makanan harimau ini sama dengan makanan harimau saat ini, termasuk memakan rusa dan babi," kata Kitchener seperti dikutip Livescience, Kamis (1/12/2011).

Kitchener menyatakan, harimau ini adalah kerabat dari harimau modern. Analisis juga menyebutkan bahwa evolusi gigi taring dan rahang atas berlangsung lebih dulu dibandingkan rahang dan gigi bawah. Evolusi diduga dipacu perubahan ukuran mangsa yang semakin besar. Analisis akurat tentang umur fosil harimau Longdan diperlukan untuk mengetahui urutan waktu evolusi harimau secara keseluruhan.
Sumber :
LiveScience

Prasasti Maya Bukan Petunjuk Kiamat


Beberapa waktu lalu, National Institute of Anthropology and History di Meksiko mengumumkan penemuan Prasasti Comalcalco. Prasasti itu memiliki kalender lingkaran, kombinasi posisi hari dan bulan yang berulang tiap 52 tahun. Tanggal yang tertera pada prasasti, diduga 21 Desember 2012, terkait dengan akhir Baktun (periode tiap 394 tahun) ke-13. Angka 13 dianggap sebagai angka keramat dalam kebudayaan Maya.

Beberapa kalangan pun berspekulasi bahwa prasasti itu adalah petunjuk kiamat 2012. Namun, beberapa kalangan lain mengatakan bahwa prasasti tersebut bisa saja merujuk pada kejadian pada masa lalu atau sekadar pergantian era. Prasasti lain yang pernah diduga merujuk pada kiamat 2012 adalah Prasasti Tortuguero.

Menanggapi dugaan tersebut, ilmuwan Jerman, Sven Gronemeyer, mengatakan bahwa Prasasti Comalcalco bukan petunjuk kiamat dalam waktu dekat. Ia mempresentasikan interpretasi teks pada Prasasti Comalcalco pada pertemuan di situs arkeologi Palenque, Chiapas, selatan Meksiko. Interpretasi tersebut menjadi yang pertama untuk Prasasti Comalcalco.

Gronemeyer mengatakan, tanggal pada Prasasti Comalcalco merujuk pada kembalinya Bolon Yokte, dewa perang dan penciptaan, pada akhir Baktun ke-13. Teks yang diukir 1300 tahun lalu di prasasti itu juga merujuk pada akhir siklus ke-5.125 dari kalender panjang Maya yang dimulai sejak 3113 Sebelum Masehi. Teks pada prasasti itu merupakan ramalan penguasa Maya, Bahlam Ajaw.

"Bagi elite di Tortuguero, sangat jelas bahwa mereka harus mempersiapkan tanah untuk kembalinya dewa dan Bahlam Ajaw akan menjadi orang yang bertanggung jawab memimpin upacara penyambutan," kata Gronemeyer seperti dikuti The Guardian, Kamis (1/12/2011).

Lebih lanjut, Gronemeyer yang mengajar di La Trobe University, Australia, menjelaskan, "Tanggal pada prasasti memiliki nilai simbolis sebab merupakan refleksi dari hari penciptaan. Tanggal itu adalah waktu memberikan persembahan untuk dewa, bukan menjadi akhir dari kemanusiaan."

Suku Maya sendiri tidak memiliki pandangan tentang akhir dunia seperti umumnya diyakini oleh manusia zaman sekarang. Maya melihat bahwa dunia merupakan sebuah siklus, di mana satu siklus bisa berakhir dan bermula ke siklus berikutnya.

Ekor T-Rex, Kunci Kecepatan & Kemampuan Memburunya

T-rex sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan seekor pemakan bangkai lamban zaman Krateseus yang ekor panjangnya hanya berfungsi sebagai penyeimbang berat bagian depan kepalanya yang besar.

T-Rex
Foto: Wikimedia

Kemampuan atletis T-rex (serta bagian belakangnya) direkonstruksi oleh Scott Persons yang merupakan lulusan Universitas Alberta. Penelitian luasnya menunjukkan bahwa otot ekor yang sangat kuat menjadikan karnivora raksasa tersebut salah satu pemburu tercepat di masanya.

Seperti yang dikutip Science Blog (15/11/10), Persons mengatakan, "bertentangan dengan teori-teori sebelumnya, T-rex menyimpan lebih dari sekadar rongsokan di ekornya."

Persons yang menggeluti bidang paleontologi tersebut memulai penelitiannya dengan membandingkan ekor reptil modern seperti buaya dan biawak komodo dengan ekor T-rex. Dari semua hewan dalam penelitiannya, Persons menemukan bahwa otot terbesar di bagian ekor melekat pada tulang kaki bagian atas. Otot kaudofemoralis ini menyediakan tenaga gerak yang memungkinkan pergerakan cepat ke arah depan.

Namun, Persons menemukan bahwa T-rex memiliki satu perbedaan penting pada struktur ekornya.

Ekor T-rex maupun hewan modern lainnya diberi bentuk serta kekuatan oleh tulang-tulang rusuk yang melekat pada tulang punggung. Persons menemukan bahwa tulang-tulang rusuk pada ekor T-rex terletak lebih ke bagian atas ekor tersebut. Hal tersebut menyisakan lebih banyak ruang pada bagian bawah ekor untuk perkembangan dan pembesaran otot kaudofemoralis. Tanpa tulang-tulang rusuk yang membatasi ukuran otot kaudofemoralis, otot tersebut menjadi pembangkit tenaga kuat yang memungkinkan T-rex berlari.

Pengukuran luas oleh Persons terhadap tulang-tulang T-rex serta pemodelan komputer menunjukkan bahwa penaksiran sebelumnya terhadap massa otot dinosaurus ditaksir lebih rendah sekitar 45 persen.

Hal tersebut menyebabkan para peneliti T-rex sebelumnya meyakini bahwa hewan tersebut kekurangan massa otot yang diperlukan untuk berlari yang oleh karenanya membatasi kemampuan memburunya. Kekurangan kecepatan membatasi peran T-rex hanya sebagai hewan pemakan bangkai saja yang hanya mampu bertahan hidup dengan cara memakan hewan yang dibunuh oleh predator lainnya.

Untuk hal kecepatan T-rex persisnya, para peneliti mengatakan bahwa hal tersebut sulit diukur, tapi Persons mengatakan bahwa hewan tersebut sepertinya bisa mengejar dan menangkap hewan lainnya dalam ekosistemnya.

Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Anatomical Record.

Tambang Garam Tertua Saat Ini Ada di Azerbaijan

Para arkeolog baru-baru ini menyediakan bukti bahwa deposit garam Duzdagi yang berlokasi di Lembah Araxes di Azerbaijan sudah mulai dieksploitasi semenjak abad ke-5 SM.

Tambang Garam Tertua

Oleh sebab itu lokasi tersebut merupakan tambang garam tertua yang pernah diketahui hingga saat ini dan sudah dibuktikan. Lebih lagi, para peneliti dikejutkan oleh produksi garam intensif yang dilakukan di tambang ini setidaknya pada tahun 3500 SM.

Studi ini yang pelaksanaannya berkolaborasi dengan Azerbaijan National Academy of Sciences akan membantu menguraikan bagaimana peradaban-peradaban kompleks pertama yang muncul antara 4500 SM dan 3500 SM di Kaukasus terorganisir. Demikian seperti yang dilansir oleh ScienceDaily (27/11/10).

Nilai simbolis serta ekonomis garam pada zaman kuno dan pertengahan sudah sangat dikenal. Penemuan-penemuan terakhir menunjukkan bahwa garam mungkin memainkan peran penting dalam masyarakat protosejarah atau masyarakat yang ada sebelum kemunculan tulisan. Bagaimana garam diambil? Dua teknik yang biasa digunakan didasarkan pada ekstrasi bongkahan garam atau deposit sedimen yang mengandung konsentrasi tinggi garam yang dapat dimakan, dan kumpulan garam yang dikeringkan oleh matahari di rawa-rawa garam. Pengetahuan teknik-teknik ini yang digunakan dahulu kala untuk mengeksploitasi material mentah seperti garam, obsidian, atau tembaga, memungkinkan para arkeolog untuk mendeduksi informasi penting mengenai kebutuhan dan tingkat kompleksitas masyarakat-masyarakat kuno. Di daerah Kaukasus, telusuran pertama eksploitasi intensif bongkahan garam muncul ketika masyarakat protosejarah mengalami perubahan besar ekonomi dan teknologi, khususnya yang menyangkut pengembangan metalurgi tembaga untuk pertama kalinya.

Untuk memahami interaksi-interaksi ini, peneliti CNRS Catherine Marro beserta timnya mengeksplorasi lembah Araxes (Turki, Iran, Azerbaijan) selama sepuluh tahun terakhir. Para arkeolog terlebih khusus memfokaskan pada tambang garam Duzdagi yang berlokasi di Azerbaijan, lebih khusus lagi di sebelah Jalur Sutra zaman pertengahan yang menghubungkan Tabriz (di barat laut Iran) dengan Konstantinopel. Hingga saat ini, penelusuran-penelusuran eksploitasi deposit ini, yang masih beroperasi, diketahui mulai dari abad ke-2 SM. Penanggalan ini didasarkan pada penemuan tak terduga di tahun 1970an dari sebuah runtuhan serambi kuno yang berisikan sisa jasad empat pekerja yang terkubur bersama peralatan mereka.

Pada tahun 2008, satu tim Azerbaijan-Perancis yang dipimpin oleh Marro dan koleganya Veli Baxsaliyev memulai eksplorasi sistematis tambang Duzdagi. Tim tersebut kemudian membuat inventaris sejumlah besar peninggalan-peninggalan (peralatan, keramik, dll.), yang tertua berasal dari tahun 4500 SM. Ini merupakan yang pertama kalinya artifak-artifak tersebut dari periode ini ditemukan dalam jumlah besar di sebuah tambang garam. Oleh karena itu para peneliti bisa menunjukkan bahwa eksploitasi tambang garam ini sudah berlangsung sangat lama, setidaknya dimulai pada abad kelima SM. Dengan demikian Duzdagi merupakan tambang garam tertua yang diketahui hingga saat ini.

Satu lagi fakta yang mengagumkan ialah bahwa banyaknya artifak-artifak berasal dari awal Zaman Perunggu mengindikasikan bahwa tambang Duzdgi secara intensif dieksploitasi sejak abad ke-4 SM. Ratusan beliung dan palu nyatanya ditemukan di dekat pintu-pintu masuk terowongan-terowongan yang runtuh. Banyaknya pecahan-pecahan keramik tanah liat yang ditemukan dekat lokasi tersebut yang secara spesifik merupakan bagian kebudayaan yang dikenal sebagai "Kuro-Araxes", memungkinkan para peneliti untuk mencari tahu usia artifak-artifak arkeologi ini. Distribusi spasial serta kronologisnya dianalisa dengan sistem informasi geografis yang menggabungkan foto-foto satelit, foto-foto udara yang diambil dengan layang-layang serta pemetaan artifak-artifak dengan DGPS, alat sejenis GPS (Global Positioning System). Ekstraksi intensif seperti itu mengindikasikan bahwa garam dari Duzdagi tidak terbatas pada pemakaian lokal oleh komunitas-komunitas kecil yang swadaya. Tak diragukan lagi pendistribusiannya dilakukan dalam kerangka ekonomi yang masih belum bisa diketahui, ke tujuan-tujuan yang lebih jauh. Lebih lagi, nampaknya garam yang diekstraksi tersebut tak hanya dapat diakses oleh komunitas-komunitas di Lembah Araxes. Eksploitasinya sejak abad ke-5 SM sepertinya merupakan hak istimewa kelompok-kelompok terkemuka tertentu.

Penemuan ini menimbulkan banyak pertanyaan. Siapa dan untuk apa garam itu diperuntukkan pada abad ke-5 dan ke-4 SM? Bagaimana komunitas yang mengeksploitasi deposit-deposit ini diorganisir? Apa hubungan ekonomi dan politik antara tempat-tempat regional (perkampungan, tempat-tempat kerja dan tambang-tambang), dan lain sebagainya? Untuk mencari sebagian jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut, para arkeolog berharap dalam waktu dekat ini bisa menggali terowongan-terowongan yang runtuh tersebut yang meliputi lebih dari 6 km2.

Penemuan ini dipublikasikan di jurnal TUBA-AR tanggal 1 Desember 2010.

Mamalia Tumbuh Besar Setelah Dinosaurus Punah

Para peneliti menunjukkan bahwa punahnya dinosaurus 65 juta tahun lalu memberi jalan bagi mamalia untuk menjadi lebih besar sekitar seratus kali lipat dari ukuran sebelumnya.

Mamalia Tumbuh Besar Setelah Dinosaurus Punah

Penelitian ini merupakan yang pertama menunjukkan pola baru peningkatan ukuran tubuh mamalia setelah kepunahan dinosaurus.

"Pada dasarnya dinosaurus lenyap dan seketika itu tak ada yang lain memakan tumbuh-tumbuhan. Itu merupakan sumber makanan lepas dan mamalia mengambil kesempatan tersebut dan akan lebih efisien lagi menjadi seekor herbivora jika memiliki tubuh besar," kata rekan penulis makalah Dr. Jessica Theodor yang merupakan profesor di Bagian Sains Biologi di Universitas Calgary, seperti yang dilansir oleh EurekAlert (25/11/10).

Ibu Theodor mengatakan bahwa sebagaimana mengkonfirmasi pertumbuhan dramatis ukuran mamalia setelah punahnya dinosaurus, studi tersebut menunjukkan bahwa ekosistem mampu memulihkan diri cukup cepat.

"Dinosaurus punah 65 juta tahun lalu, dan dalam waktu 25 juta tahun sistemnya dikembalikan kepada maksimum baru dalam hal ukuran tubuh hewan-hewan yang ada pada waktu tersebut. Waktu yang dibutuhkan tersebut secara geologi cukup pendek," katanya. "Hal tersebut merupakan evolusi yang cepat."

Ibu Theodor mengatakan bahwa mamalia tumbuh dari ukuran maksimum sekitar 10 kg ketika hidup bersama dinosaurus menjadi maksimum 17 ton sesudahnya.

"Tak ada yang pernah menunjukkan bahwa pola ini benar-benar ada. Orang-orang berbicara tentangnya tapi tak ada seorang pun yang mundur ke dalam waktu dan melakukan kalkulasi matematika," kata ibu Theodor sebagai salah satu dari 20 peneliti internasional yang mengerjakan studi tersebut.

Para peneliti tersebut melalui setiap periode waktu untuk mencari yang terbesar di antara berbagai kelompok mamalia lalu memperkirakan massa tubuh hewan tersebut.

Untuk mendokumentasikan seberapa besar pertumbuhan mamalia setelah "berkurangya kompetisi" karena kepunahan dinosaurus, para peneliti mengumpulkan data tentang ukuran maksimum kelompok-kelompok utama mamalia darat di setiap benua, termasuk Perissodactyla yaitu hewan berkuku ganjil seperti kuda dan badak; Proboscidea yang termasuk gajah, mamut dan mastodon; Xenarthra, pemakan semut, kungkang pohon, dan armadillo; begitu juga dengan sejumlah kelompok lain yang punah.

Hasilnya memberikan petunjuk seperti faktor apa yang membatasi ukuran mamalia di darat; jumlah ruang yang tersedia untuk masing-masing hewan dan iklim di tempat mereka tinggal. Semakin dingin iklimnya semakin besar mamalia tumbuh karena hewan yang berukuran besar menyimpan panas dengan baik. Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa tak ada satu kelompok mamalia mendominasi golongan ukuran terbesar karena sebenarnya mamalia terbesar termasuk pada kelompok-kelompok berbeda sepanjang ruang dan waktu.

Studi ini dipublikasikan di jurnal Science.

http://www.sciencemag.org/content/330/6008/1216.abstract

Minggu, 27 November 2011

Olimpia Mungkin Dihancurkan Tsunami


Olimpia yang dikenal dalam sejarah sebagai pusat pemujaan terhadap Dewa Zeus dan penyelenggaraan olimpiade pada masa Yunani kuno diperkirakan hancur oleh tsunami. Inilah hipotesis ahli paleotsunami Institute of Geography of Johannes Gutenberg University Mainz, Jerman, Andreas Vött, yang melakukan analisis sedimen dan studi paleotsunami di timur Mediterania.

Jejak tsunami ada pada lapisan sedimen yang merekam peristiwa dalam kurun waktu 11.000 tahun terakhir. Hipotesis Vött membantah hipotesis sebelumnya yang mengatakan bahwa Olimpia hancur oleh gempa bumi tahun 551 AD dan banjir Sungai Kladeos.

"Baik komposisi maupun ketebalan sedimen yang ditemukan di Olimpia tidak mengarah pada potensi hidrolik Sungai Kladeos dan geomorfologi lembahnya. Sangat tidak mungkin kehancuran adalah akibat sungai itu," kata Vött.

Penemuan cangkang moluska atau hewan lunak dan foraminifera menegaskan hipotesis Vött. Keduanya menunjukkan bahwa sedimen yang mengubur Olimpia sedalam 8 meter selama ratusan tahun hingga ditemukan kembali 250 tahun lalu berasal dari lautan. Tsunami adalah satu-satunya mekanisme yang bisa membawa sedimen itu sebab Olimpia sebenarnya berada di ketinggian 33 meter di atas permukaan laut.
Dalam skenario Vött, gelombang tsunami masuk mendesak arus Sungai Kladeos dan Alpheios. Akibat desakan arus itu, Olimpia pun banjir dan hancur. Banjir tak segera surut karena aliran sungai Kladeos ke Sungai Alpheios terblokir oleh tsunami yang datang. Berdasarkan analisis sedimen, terbukti bahwa skenario ini terjadi secara berulang dalam kurun waktu 7.000 tahun terakhir.

Hipotesis kehancuran Olimpia akibat tsunami juga semakin kuat sebab sedimen yang identik dengan di Olimpia juga ditemukan di bukit dekat pantai. Ditambah lagi, fakta bahwa dahulu Olimpia terletak lebih dekat dari lautan sehingga lebih mungkin dihantam tsunami. Puing-puing Olimpia yang ditemukan juga mengambang di atas sedimen sehingga kecil kemungkinan kehancuran Olimpia disebabkan oleh gempa.

Vött mengungkapkan, tsunami di Yunani bukanlah peristiwa langka. "Evaluasi sejarah menunjukkan bahwa di Yunani bagian barat, rata-rata ada satu tsunami setiap 8-11 tahun," kata Vött. Tsunami di wilayah itu umumnya dipacu oleh aktivitas seismik akibat patahan Afrika dan Eurasia. Ke depan, Vött akan mempresentasikan hasil analisisnya di konferensi ilmiah di Corinth, Yunani, September mendatang.

Ditemukan Fosil Sepasang Kekasih Berusia 1.500 Tahun


Arkeolog asal Italia menemukan fosil sepasang pria dan wanita yang sedang bergandengan tangan. Fosil pria wanita itu ditemukan di Italia bagian utara dan berasal dari abad kelima-keenam sehingga diperkirakan sudah berusia 1.500 tahun. Bersama fosil itu, arkeolog juga menemukan sebuah cincin perunggu yang dikenakan oleh fosil wanita. Arkeolog berpendapat, fosil tersebut mungkin saja sepasang kekasih.

"Kami percaya bahwa mereka dahulu terkubur dengan wajah saling memandang. Posisi fosil pria menunjukkan bahwa kepalanya terputar sebelum mati," kata Donato Labate, Direktur Ekskavasi dari Emilia-Romagna.

Selama penggalian, di kedalaman tiga meter, arkeolog menemukan 11 pekuburan. Fosil pasangan pria wanita ini ditemukan pada pekuburan yang ke-11.Selain itu, di kedalaman 7 meter juga ditemukan puing-puing bangunan kuno Roma.

Labate mengungkapkan, manusia yang memfosil tersebut kemungkinan mati karena banjir melanda Sungai Tiepido pada 589, seperti dikisahkan Paul the Deacon.

Kristina Killgrove, pakar antropologi biologi dari University of North Carolina, mengatakan bahwa penemuan fosil yang tampak memiliki hubungan dan mati bersamaan bukan hal yang aneh.

"Tidak mengejutkan menemukan pasangan atau anggota keluarga mati bersama. Adanya epidemi, seperti black plague, yang menyerang Eropa bisa menyebabkan anggota keluarga mati ketika ingin menguburkan anggota keluarga lainnya," kata Killgrove.

Tahun 2007, pernah juga ditemukan fosil pasangan berusia sekitar 5.000-6.000 tahun di situs Neolitik dekat Mantua, 40 kilometer utara Verona. Fosil sepasang kekasih itu kini tengah dipelajari lebih lanjut oleh Giorgio Gruppioni, antropolog dari University of Bologna. Riset yang akan dilakukan terkait umur, hubungan keduanya, dan sebab kematian.

http://sains.kompas.com/read/2011/10/25/17212492/Ditemukan.Fosil.Sepasang.Kekasih.Berusia.1.500.Tahun

Dapur Purba Markas "Chef" Suku Maya


Mungkin inilah penemuan arkeologis paling "lezat", sebuah dapur purba suku Maya yang berusia 1.000 tahun. Dapur purba yang ditemukan di wilayah Yucatan, pusat peradaban suku Maya, itu pastinya menjadi markas chef-chef terhebat pada masa itu.

Berukuran 40 x 14 meter, dapur itu adalah bagian dari sebuah istana. Ilmuwan memprediksi bahwa dapur itu aktif' tahun 750-950, periode suku Maya mencapai kejayaannya. Bukti adanya manusia di tempat ditemukannya dapur ini telah ada sejak tahun 300 SM.

Berdasarkan laporan Institut Nasional Sejarah dan Antropologi Meksiko (INAH), beragam panci dan artefak lainnya ditemukan di dapur itu. Para arkeolog juga menemukan bukti adanya bekas bara api yang memberi petunjuk adanya aktivitas memasak di daerah itu.

"Kami yakin ada banyak makanan yang dimasak di sana yang menjadi alasan mengapa peralatan masak berukuran besar. Ada banyak macamnya dan memiliki ukuran yang beragam sesuai keperluan," kata Lourdes Toscano, arkeolog INAH, seperti dikutip Foxnews, Kamis (17/11/2011).

Yang unik, peneliti tidak menemukan sedikit pun tulang belulang. Ini membuktikan bahwa sampah dari bahan makanan dibuang ke tempat di luar dapur. Wah, ternyata suku Maya, terutama yang di istana, sudah mengenal pengelolaan dapur.